Monday, April 29, 2013

Tempoyak


 
Tempoyak adalah masakan yang berasal dari buah durian yang difermentasi. Tempoyak merupakan makanan yang biasanya dikonsumsi sebagai lauk teman nasi. Tempoyak juga dapat dimakan langsung (hal ini jarang sekali dilakukan, karena banyak yang tidak tahan dengan keasaman dan aroma dari tempoyak itu sendiri). Selain itu, tempoyak dijadikan bumbu masakan.
Citarasa dari Tempoyak adalah masam, karena terjadinya proses fermentasi pada daging buah durian yang menjadi bahan bakunya. Tempoyak dikenal di Indonesia (terutama di Palembang, Lampung dan Kalimantan), serta Malaysia. Di Palembang sendiri, makanan ini dimakan bersama ayam. Di Lampung, Tempoyak menjadi bahan dalam hidangan Seruit atau campuran dalam sambal.
5 Blognya Tranius Eko: April 2013   Tempoyak adalah masakan yang berasal dari buah durian yang difermentasi . Tempoyak merupakan makanan yang biasanya dikonsumsi...

Rusip


Rusip merupakan salah satu dari sekian banyak makanan tradisional masyarakat Bangka. Rusip terbuat dari ikan yang telah difermenatasikan dan digunakan sebagai pengganti sambal untuk lalapan daun singkong, mentimum, dan sebagainya. Bangka Belitung merupakan daerah kepulauan dimana mata pencaharian utamanya selain tambang dan perkebunan adalah nelayan dengan komoditi utama adalah ikan.

Dulunya jenis pengawetan ikan ini hanya dilakukan ketika ikan sedang melimpah dan harganya sedang jatuh. Akan tetapi, saat ini rusip diproduksi oleh industri rumah tangga karena pembuatan rusip tidak hanya untuk penyimpanan saja melainkan sudah menjadi salah satu panganan wajib di Bangka Belitung. Selain itu, juga sudah banyak yang membeli Rusip sebagai buah tangan jika berwisata di Bangka Belitung.

Untuk membuat rusip, bahan-bahan yang digunakan adalah ikan teri segar, garam dan gula aren. Rusip dibuat dengan cara membersihkan ikan teri dari kotoran dan kepalanya dibuang. Ikan dicuci hingga bersih dan ditiriskan. Ikan dicampur dengan garam dan diremas-remas agar garam tercampur dengan merata. Kemudian campuran garam dan ikan disimpan selama 1 malam di dalam wadah tertutup.

Selanjutnya, campuran ikan dan garam ditambahkan dengan air gula aren. Campuran disimpan  dalam wadah yang tertutup seperti botol selama 1 minggu atau lebih. Rusip yang disiap dikonsumsi akan menghasilkan bau yang khas dan berasa asam dan asin. Rusip dikonsumsi dengan menambahkan irisan cabai dan bawang merah serta perasaan air jeruk sambal. Bagi yang tidak menyukai rusip tanpa dimasak, rusip dapat dimasak terlebih dahulu dengan cara mendidihkan rusip yang telah ditambahkan irisan cabai dan bawang merah di wajan.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sastra (2008), hasil uji organoleptik untuk parameter penampakan, warna, aroma, dan rasa terhadap rusip yang paling disukai panelis adalah rusip dengan konsentrasi garam 10% pada pemeraman 14 hari dengan karakteristik nilai pH (4,62), TPC (3,6×106 koloni/g), kadar garam (6,90%), total asam laktat (2,18%), kadar air (66,49%), kadar lemak (0,96%), kadar protein (17,6%), dan kadar abu (10,70%).  Menurut Suryatno (2010), Rusip termasuk didalam kelompok makanan EA dan memiliki kandungan energi sebesar 110 kalori, protein 11.50 gram, lemak 2.00 gram, karbohidrat 11.70,  kalsium 479.00 mg, fosfor  348 mg, Zat Besi 7.10 mg, Vitamin A 0 RE,Vitamin B1 0.04 ug, Vitamin C 0.0 mg, F-EDIBLE (BDD) 100, dan F-WEIGHT 100. F-EDIBLE (food edible) adalah bagian atau persentase berat pangan yang dapat dimakan (bdd) dan sedang F-Weight adalah berat makanan yang dianalisis untuk mendapatkan zat gizi sesuai yang tertera daftar.
5 Blognya Tranius Eko: April 2013 Rusip merupakan salah satu dari sekian banyak makanan tradisional masyarakat Bangka. Rusip terbuat dari ikan yang telah difermenatasika...

Asam Maram



 


Asam maram atau asam paya adalah asam kalimantan struktur buah yang mirip dengan bauh salak ini adalah idola bagi ibu-ibu yang dengan ngidam. rasanya yang asam sesuai dengan namanya sangat khas, bagi mereka yang pernah makan langsung atau menjadi bumbu sayur akan langsung menelan liur jika mendengar nama asam maram, daya pikatnya begitu tinggi pada selera kita. biasanya kaum remaja kalimantan menikmati asam maram sebagai rujak atau atau campur sambal. asam maram juga bisa dibuat sebagai manisan, bahkan pada musim-musim tertentu banyak dijual di warung-warung seluruh kalimantan barat. apakah anda penasaran dengan rasa buah maram yang mampu menjadi idola kebanyakan orang kalimantan ini. jika anda ke kalimantan tidak ada salahnya juga mencicipi buah "Maram"
5 Blognya Tranius Eko: April 2013   Asam maram atau asam paya adalah asam kalimantan struktur buah yang mirip dengan bauh salak ini adalah idola bagi ibu-ibu yang d...

Ulat Sagu


Ulat sagu memiliki nama latin Rhynchophorus ferruginenus . Ia banyak terdapat di beberapa daerah di Indonesia, khususnya Papua. Bentuknya mungkin terlihat menjijikkan bagi sebagian orang. Namun, bisa jadi tampak lucu bagi sebagian yang lain. Bahkan, di Papua, ulat sagu ini menjadi menu santapan yang digemari. Orang  Kamoro, Kabupaten Mimika,  menyebutnya “koo”.

Koo banyak hidup dalam pohon sagu yang selesai dipangkur (diambil sagunya) dan telah membusuk. Sebenarnya, ulat sagu ini adalah larva (bayi) kumbang kepala merah yang suka menggunakan pohon sagu busuk untuk bertelur. Orang Papua menyantap koo dengan berbagai cara. Ada yang menyantapnya mentah-mentah, membakarnya, atau memasaknya bersama sagu.

Konon, ulat sagu mentah rasanya manis campur gurih. Badannya yang gendut gilik jika digigit... kres, renyah. Dagingnya terasa seperti daging buah leci atau rambutan. Sedangkan rasanya mirip buah lengkeng. Jika digigit, dari perutnya mengalir cairan manis.

Ada siswa Papua yang sudah meneliti ulat sagu ini. Mereka adalah Agustina Padama, Darius Ohee, Mike Juneth Christin Toam, Richard Antonius Mahuze, dan Yulian Marco Awairaro. Menurut hasil penelitian mereka, koo mengandung protein tinggi. Lebih tinggi dari protein telur ayam. Selain itu, juga kaya lemak dan mineral. Karena penelitiannya ini, mereka berhasil memenangkan medali perunggu dalam lomba karya ilmiah The International Conference of Young Scientists (ICYS) ke -19 tahun 2012 di Kampus Radboud University Nijmegen, Belanda.
5 Blognya Tranius Eko: April 2013 Ulat sagu memiliki nama latin Rhynchophorus ferruginenus . Ia banyak terdapat di beberapa daerah di Indonesia, khususnya Papua. ...
<